DOES TIME REALLY HEAL?
Does time really heal? Apa benar waktu menyembuhkan luka?
Dulu gue punya rekan kerja yang super juara banget. Dia rapi, cantik, rajin, sat-set, ringan tangan, pokoknya asik banget. Belum lagi dia itu ramah dan ceria. Bukan ramah khas setelan mode kerja yang memang dituntut untuk pasang wajah ramah tapi terlihat banget dipaksakan. Ramah dan ceria dia beneran terasa genuine. Energi emang ga bisa dibohongi.
Dia bukan tipe ‘tenggo’, yang pas waktu jam kerja habis (seperti bunyi ‘teng’ dalam lonceng) langsung ‘go’ alias cabut. Sebaliknya, dia justru seperti ga punya jam kerja. Dia datang paling awal dan bisa pulang jam 11 malam karena inisiatif lembur sendiri, which means lembur ga berbayar.
Suatu hari gue dan beberapa teman berencana nongkrong di cafe pulang kerja. So, gue mampir ke ruangannya saat mendekati jam pulang kerja. Gue mau ngajakin dia gabung sama kami.
Baca juga: My Beliefs about Work and Money That Save My Life - Lika-liku Gue Kerja
Seperti biasa, dia selalu merespon dengan senyum dan giggle ramah khas dia. Tapi giggle yang ini terlihat canggung. Ternyata itu ada lah tipe giggle yang sedang menolak tawaran.
Dia kemudian menunjukkan beberapa pekerjaan di mejanya yang harus ia selesaikan. Ia juga bercerita bahwa belakangan ia membawa pulang pekerjaan dan masih lanjut kerja di rumah sampai pukul 1 atau 2 dini hari.
Bukan cuma itu, ia mengangkat cangkir kopinya sambil mengatakan bahwa ia bisa minum bercangkir-cangkir kopi dalam sehari untuk membuatnya tetap terjaga dan bekerja. Dan yang paling mengejutkan adalah saat ia menunjukkan parasetamol. Dengan santai ia mengatakan bahwa jenis parasetamol A udah ga mempan untuk sakit kepalanya sehingga ia mengganti dengan parasetamol B yang dosisnya lebih tinggi. She needs her head to work.
![]() |
Photo by Jess Bailey Designs |
Mendengar itu, gue semakin gigih merayu dan mengajaknya pergi. I mean… itu kan bahaya. Jadi, biar bagaimana pun juga gue berusaha bikin dia ikut. There’s always tomorrow for work. Lagipula jam kerja kan sudah usai.
Pertahanannya runtuh, tapi tidak dengan kemampuan negosiasinya. Dia mengiyakan, hanya saja dia bakal nyusul pukul 7. And that was the deal.
Baca juga: Peran Penting Accountability Partner
Kami semua sumringah begitu melihat dia muncul di cafe. She made it, begitu pikir gue. Ga tau kenapa I felt like I was proud of her for doing it. Karena gua yakin pasti hal itu ga mudah buat dia.
Dan di sana lah akhirnya ia berbagi cerita dengan kami tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ia baru saja mengalami kejadian terberat dalam hidupnya. Sangat berat sehingga ia mengajukan cuti dan bahkan surat pengunduran diri. Dia butuh waktu untuk dirinya sendiri, untuk healing.
Bos memahami kondisinya. Namun bos berpikir lain. Menurutnya bila ia cuti atau resign maka ia akan semakin terpuruk dan tenggelam dalam masalahnya. Oleh karenanya, ia diminta untuk stay. Kesibukan dalam bekerja dapat mengalihkan pikirannya dari masalah itu, membuatnya produktif, dan menjadi lebih kuat.
Mendengar hal itu, tentu gue sangat bersimpati padanya. Kita ga tau apa yang telah terjadi dan dialami oleh seseorang.
***
Gue baru mengingat kisah yang terjadi bertahun-tahun silam itu sekarang, saat gue menikmati pagi dengan secangkir kopi instan dan ketan bakar panas. Ingatan gue pun melayang ke masa-masa saat gue masih kerja 9-5 job.
Baca juga: I Quit My 9-5 Job and Choose to Live in Uncertainty - Best Decision Ever!
Saat itu yang gue tau tentang hidup ya begitu. Selesai sekolah, ya bekerja. Lalu cari kerja yang lebih baik, lingkungan lebih enak, gaji lebih bagus, and so on, and so forth.
Bekerja itu bisa menyenangkan dan addicted. Kalau sudah benar-benar enjoy and dive into the work, pikiran didominasi oleh pekerjaan. Entah itu memikirkan solusi, teringat pekerjaan yang belum selesai, atau bahkan ide baru yang muncul saat sedang mandi.
Saking akrabnya dengan dunia pekerjaan ini, kita pun jadi terbiasa dan terampil. Kita menjadi fasih dan mahir sekali dalam bidang ini. The sad part is kita illiterate menghadapi masalah yang tidak berhubungan dengan dunia kerja. Padahal masalah yang ga berkaitan dengan pekerjaan jauh lebih banyak, lebih complicated, dan berhubungan langsung dengan orang-orang yang kita sayangi, termasuk diri kita sendiri.
Kita belajar cara mengelola keuangan, tapi tidak pernah diajarkan tentang cara mengelola perasaan. Kita dikasih training tentang management conflict di kantor, tapi tidak tidak tentang management conflict di dalam diri kita sendiri.
Hal-hal seperti mengenal pribadi diri, mengenali emosi dan perasaan, bagaimana cara merasakan perasaan, how to regulate emotion, and stuff like that tidak dianggap essential yang masuk dalam kurikulum pendidikan dasar. Padahal ilmu ini bukan hanya practical, tapi berguna dan dipakai seumur hidup, jauh lebih panjang dari masa pakai KTP yang baru dimulai diusia 17.
Karena kita lebih mahir bekerja, disadari atau tidak, kadang kita menggunakan pekerjaan sebagai pelarian atas masalah yang sedang kita hadapi. Pencapaian diri terhadap pekerjaan kemudian diasosiasikan sebagai bentuk keberhasilan karena memang bentuknya tangible - terlihat dan terukur.
Waktu yang terus berjalan selama kita memfokuskan diri pada pekerjaan dianggap menjadi penyembuh terhadap masalah. Kita merasa telah lupa terhadap masalah itu karena sakitnya mungkin tidak lagi terasa. Akhirnya, pekerjaan dan pencapaian karir digunakan sebagai remedy yang mujarab. And this is why people say ‘time heals’.
Baca juga: Terjebak Dalam Kebiasaan Menunda
But, does time really heal?
Belakangan banyak orang membantah pepatah itu. Menurut mereka, waktu tidak pernah menyembuhkan luka. Waktu hanya berjalan sebagaimana tugasnya. Seiring dengan berjalannya waktu, emosi berat yang terjadi mengendap di dasar atau tersimpan di sebuah ruang jauh di dalam hati kita.
Emosi itu masih ada di sana. Ia hanya tidak muncul ke permukaan. Kondisi hidup yang dinamis menghadirkan beragam emosi sehingga emosi berat yang dulu hadir tertutupi. Jadi kita mengira bahwa emosi itu udah ga ada. Tapi, tidak kelihatan bukan berarti ga ada. Karena pada kesempatan lain, emosi itu bisa kembali muncul saat ia ketrigger.
If that’s the case, nampaknya waktu memang tidak menyembuhkan. Memaafkan dan melupakan juga bukan indikasi atau syarat terjadinya penyembuhan luka batin bila itu bukan benar datang dari situasi di mana kita telah berdamai dengan diri kita sendiri akan luka itu.
So, there’s no other way. Seperti kata dr. Jiemi Ardian, kita perlu merawat luka batin kita sendiri, bukan berlari darinya.
Comments
Post a Comment